idealis mati di loteng jam tiga pagi
matanya terbelalak menatap bintang-bintang di langit melalui celah atap transparan
ingin ikut bersinar dengan jiwa-jiwa para pujangga yang abadi di langit hitam kelam
Berita: Idealis Mati di Loteng jam Tiga Pagi
idealis mati di loteng jam tiga pagi
matanya terbelalak menatap bintang-bintang di langit melalui celah atap transparan
ingin ikut bersinar dengan jiwa-jiwa para pujangga yang abadi di langit hitam kelam
Berita: Idealis Mati di Loteng jam Tiga Pagi
Aku = Aku = Aku
kuasaku, terserah aku
api di kakiku muncul dari bawah bumi, dari jurang terdalam
cincin duri di telunjuk
topeng dewa di wajahku
Jangan kemari
Jangan mengaduh
nanti gaduh istanaku!
Diam saja! di sana, mengais kasih dari Atas
kita lihat bagaimana dirimu mengering
Tahan sakitmu, wahai budak
di sana! ya, di sana
di lantai terdingin di ruang lukamu yang seakan tak berpintu
terlihat serupa
terlihat sama
terlihat baik
sama-sama baik
sama-sama ulurkan tangan
makin lihai kubu api bermanifestasi
main taksa
garis tebal jadi blur
ingat ini!
uluran tangan-tangan berkuku runcing itu tak tulus,
ada harganya …

selamat menikmati, selagi
belum saatnya bayar
padahal sudah pagi
matahari enggan berseri-seri
kini sering begini
hatinya tertuju pada jiwa-jiwa yang nyeri
mendengar doa-doa kapan mati
benang merah putus!
beberapa pilih potong tali
tak lagi cukup dengan perih
ia, ia, dan ia … pergi
di titik-titik, terang memudar
sisa hidup memeluk bumi
ketimbang nyeri yang tak lagi teratasi
merah memerah
jarah menjarah
ambil ambil ambil
luka melukai membelah diri
betapa tak gundah Sang Matahari!
mundur
dua tiga langkah
tak dalam atmosfer bungah
ada ada residu kesah
mundur!
mundur!
luaskan pandangan
siapkan tanpa telunjuk menajam
tanya-tanya jadi menghujam
mengerucut
tanpa terwakili bahasa
tetap mempertanyakan
… ???
di bawah meja, cerita-cerita
euforia
lebih riuh
soal uang!?
segala urusan di atas meja,
RUMIT
Kepada maha sistem,
tunduk!
mungkin memang diciptakan
RUMIT
kokoh
lalu menghamba …
๐๐ข๐ซ๐ก๐ฅ๐ฆ๐จ๐ ๐ก๐ฅ๐๐ด๐ฒ๐ฅ, ๐๐ฒ๐ฐ๐ฑ๐ฆ ๐๐ฏ๐ฑ๐ฅ๐
tenang saja
ragaku kan tetap di lembah
menjilati adanya tanah
kadang kering, kadang basah
menghimpun segala remah yang sudah sudah
jadi tenang lah …
she picked up the broken pieces, until
she has been bleeding
for years
closed the gate to the heart
locked it
she locked it up
where is the blood sucker?
bisa jadi, masa ini ‘kan menggiring pada definisi baru
sukses bukan lagi berbahasa baku
standar lama perlu berlalu
bisa jadi, proses yang entah entah itu, akan berbekas pilu
bertahan lah
berusaha pula tetap ‘baik’
berusaha … berusaha!
karena KELAK
penguasa singgasana juga pasti berganti
kadang kala, menjadi terlalu bahagia buatku merasa bersalah
ku ingin bahagiakan ibu, tapi tak punya apapun yang pantas tuk bayar cintanya
jadi Tuhan … ambil saja jatah bahagiaku dan berikan lah pada adik dan ibuku
๐ sejak 2018 ๐
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles