hitam putih jadi abu-abu di pelupuk
gara-gara kebijaksanaan mulai lapuk
sejak kabut berpenyakit mengusir hawa sejuk
pagi kini suntuk
terhitung sejak pangeran neraka mulai terbatuk-batuk

hai, jiwa-jiwa yang bijak
apa kau dengar?
hitam putih jadi abu-abu di pelupuk
gara-gara kebijaksanaan mulai lapuk
sejak kabut berpenyakit mengusir hawa sejuk
pagi kini suntuk
terhitung sejak pangeran neraka mulai terbatuk-batuk

hai, jiwa-jiwa yang bijak
apa kau dengar?
tak sudi kalah
mereka kini menatang cahaya juga
seolah menating minyak penuh
padahal kuku-kuku mereka hitam
agen-agen rahasia mereka bergerak
amat perlahan
memantau segala pergerakan
menandai siapapun kesatria penjaga di penjuru dunia
yang menyamar
membaur di antara orang biasa
kabut kelam gerilya
gerak gerik kecilnya mulai memblokade jalur
berusaha mencegat
berburu hingga ke jalan raya, juga gang-gang kecil dunia maya

“Semerbak asa embun pagi dilarang menyebar,” katanya.
“Cegat!”
“Cegat!”
berapa sentimeter luka kau toreh pada anak itu?
seberapa dalam robekannya?
seberapa kuat ia mampu usung luka itu hingga dewasa?
kau pikir, keanehan tingkah polah manusia dewasa bermula dari apa?
kau kira, awan kelabu di atas kepalanya muncul dari mana?
kau sangka, luka mudah sirna?
kau hadir lalu angkat kaki
menoreh luka lalu pergi
memunggungi si anak yang mulai dirundung sepi
dibiarkan tumbuh sendiri
sedangkan luka di tubuh si anak berekspansi
seperti kaki yang berlari bangat
coba lepas tapi tak bisa
dibuntuti bayangan gelap di balik tumit
padahal sudah kenyang fasihat
tak jua hebat
jadi ku biarkan saja meledak
antara perut, kepala, atau dada
salah satu perlu meledak
dan kaki kembali berlari
berburu fasihat yang lain lagi
hanya berangan melesat
perjalanan duniawi yang hebatnya tak sejati
tak kan lepas bayangan itu selagi kerama bagi manusia
belum sadar juga,
semua itu sia-sia
iblis terkekeh mencipta masalah
suara menggoda memerahkan telinga
tak henti menghujani membuat risih
terus menggema membuat kalut
terkumpul bara tak sabar membakar
menuntut diri bersikap tegar
amarah menunggu pemiliknya buka gerbang,
“Ijinkan aku menegakkan kebenaran!”
tak disangka keberanian diri menyerang balik
pedang hukum menghujam jantung
“Kau lihat, memangnya mudah jalan lurus!”
iblis tertawa
Harus takut atau berani?
Harus diam atau bicara?
Harus membiarkan atau menuntut?
Harus pasrah atau bela diri?
Harus hidup dalam ketakutan
atau mati dalam keberanian?
alogaritma bekerja
gelar karpet merah untuk yang
pada saatnya, akan
meraja hanya di bumi
fana.
memperluas pengaruh
menghimpun tentara
penjuru bumi
bekerja kirim pesan
masuk alam bawah sadar
konon, di cerita
paling akhir,
terbakar …
sayap
kini rapuh, separuh
masih kuat, separuh
tinggal ini
mengapa lah begini
sekali masa, biar terbang tinggi
tolong, apalagi
jangan digunting
jangan digunting
sup daging di lapangan
berebut, padahal
panci mendidih
kuahnya panas
mataku hampir melepuh
air mataku …

kirim doa dari bilik bertelut
rumah berdebu
mungkin aku
ada yang lain masih terpaku
Dia dengar doaku
masih di sini
berlutut di atas permadamai
sepertinya sendiri
maaf kau salah, di sini tak sepi!
yang terbang, terbang lah dengan haru
yang pulang, mari pulang tanpa pilu
atau kembali kita ke hulu
itu …
terjadi, terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
seruan pulang
lepas lalu terbang
menghilang dari riuh pandang dedaunan
nyaris senyap meninggalkan penghalang
selesai di sini
mari pergi seolah sembunyi
jauh dari taman warna warni
bergandeng tangan dengan angin, lantas terbang meninggi
bingkisan doa-doa di tiap henti
lalu hinggap di sayap merpati
menari-nari ria
berputar-putar menuju angkasa
bahagia …
idealis mati di loteng jam tiga pagi
matanya terbelalak menatap bintang-bintang di langit melalui celah atap transparan
ingin ikut bersinar dengan jiwa-jiwa para pujangga yang abadi di langit hitam kelam
Berita: Idealis Mati di Loteng jam Tiga Pagi
🍂 sejak 2018 🍂
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles