Sebuah percakapan antara aku dan Tuhan.
“Bagaimana kalau waktu tak ada?”
aku bertanya.
“Apakah kau mengira Aku juga tak ada?”
Kau tak bisa menjawab pertanyaan-Ku. Tetapi kurasa kau yakin sungai-sungai biru berhenti mengalir. Hujan berubah jadi butir-butir air serba merah. Topi-topi cokelat berterbangan ke langit dan tak pernah kembali. Selimut menggulung sendiri. Buku-buku berjatuhan dari almari. Kacamata pecah. Pulpen menangis. Koper-koper memuntahkan gaun hijau muda. Kau bergegas ke toilet. Kau bergegas bercermin. Kau bergegas memuntahkan makanan terakhir. Roti-roti membusuk. Anggur tumpah.
~Kitab Para Pencibir halaman 91~