Alien 4.0

Ada suatu kengerian tak terjelaskan
Suatu penurunan
Suatu pergantian
Suatu pembaruan?
Mungkin revolusi atau entah apa namanya

Si Lama dipaksa tidur karena
Si Baru sudah bangun
Mereka bersiap meraja
Dengan kecupan lembut mereka mengambil alih
Tangan-tangan maya meraba-raba
Menancapkan kukunya perlahan ke tubuh peradaban

Percikan antusiasme terhadap kebaruan memberi semangat
Ada yang berlebih akan menggantikan
Sungguh megah nan menggoda, tapi …
Tapi ada kengerian
Kengerian yang bagai venom berlarian manja di pembuluh darah
Merasuk diri yang hanya mematung kekurangan daya

Ngeri, tapi tak kuasa menahan Si Lama tetap terjaga
Si Baru bersiap meraja …

Arrogant!

Bawa saja!

Bawa jauh jauh cahaya besar itu!

Percuma bermegah!

Toh, terangnya memuramkan jiwa

Seolah indah namun menakutkan


Lebih baik di sini

Di persemayaman para mantan pendosa

Biar berganti

Ganti kegelapan mengutus titik-titik terang ke segala penjuru

Memberi harapan pada jiwa-jiwa yang haus

Merindukan oase harapan yang tak kunjung datang

The Edge of The Century

Hawa-hawa kesedihan berhamburan
Udara pengap akan nestapa dirasakan
menjelang datangnya ujung peradaban
Sementara kuil-kuil sesak manusia yang memohon ampunan

Menjelang petang, langit terbelah
Menjawab doa-doa yang meluap bersama resah
Langit mendengar suara-suara hati yang patah
Jiwa-jiwa baik yang diliputi gundah

I Am a Tailor

Andai pilar tubuhku normal, mungkin lah aku sedang memanen gandum sekarang.

Andai pilar tubuhku normal, tak kan ku susah payah mencari sebuah jarum yang pernah ku buang di tumpukan jerami bertahun-tahun lalu.

Andai pilar tubuhku normal, tak perlu lah berkerut dahi memikirkan apa yang bisa ku buat sembari duduk di kastil kecilku.

Aku tak suka membuat kue jahe. Itu mengingatkanku pada bibi Nora.
Menjual buah di pasar? Tidak! Kakiku belum cukup kuat.

Aku memerlukan jarum itu untuk menjahit. Benang wool lama masih ada. Berdebu. Tak yakin akan buat apa. Musim dingin masih lama. Sekarang, aku butuh jarum itu.

Entahlah kalau suatu saat nanti, aku akan kembali ke ladang gandum. Tapi tolong, biarkan aku menjahit dulu saat ini. Aku tak punya pilihan lain.

Rendah Demi Anda

Merindukan bangsa cacing para tikus
Duduk melantai di tanah
Santai tanpa takut disengat lebah
Yang penting tak lagi gundah
Atas nama damai menjunjung kekalahan
Cukup bermodal kebodohan

Harus kah tetap rendah?
Supaya anda jangan resah
apalagi marah

Harmonious

Suara angin mendesis manja
Menerpa wajah yang mulai menua
Tiupkan gelembung syukur dan doa
Berharap hanya damai dan sejahtera

Kalau itu membuat kita berbaik,
aku lebih pilih duduk di bawah terik
Duduk bertanah sesekali bernyanyi
Melihatmu terbang meninggi meraih mimpi
Jangan lupa mampir lah sesekali ke bumi
Kusajikan kudapan-kudapan para peri

THERE WILL COMES AN ERA WHERE GOOD PEOPLE ARE MISUNDERSTOOD …