Meet Me in DREAMTOPIA

Menulis surat di secarik kertas putih
Melipat jadi bentuk pesawat
Ku terbangkan pesawat surat itu ke langit
diiringi damai di hati

Berpijak di awan
Putih bertemu putih
memainkan kebaikan yang naif
Canda tawa suka dan cinta
Rajutan kerinduan penuh damai sejahtera
Kisah lama yang terbengkalai takdir

Ketika kembali ke dunia nyata,
tolong tetaplah indah
Buat cinta jadi penguasa hati
Damai, yang harus memenangkan diri
Usir prasangka,
ayo berbaik lagi

Harmoni menanglah!
Harmoni menanglah!

Lumpur Hisap

Menyusuri sisi sungai perawan
Bersama kesejukan yang anehnya menghitam
Ada keindahan dan kengerian saling merayu
Membawa diri yang terus jalan tanpa ragu

Hap… Hap… Hap…
Kaki melompat hati-hati menghidari celaka
Tak ada di peta, ada ceruk menganga
Degup kencang nyaris menuju petaka
Puji syukur tak jadi cedera

Dahan meringkuk menahan ngeri
Ditemani langit yang tak sudi berseri
Sedang berduka entah sedang luka
Malam mencekam bermuram durja

Tanah berlumpur di dalam hutan
Tenang namun mematikan
Diri yang berjaga akhirnya celaka
Terperangkap di suasana gelap
Terbenam dalam lumpur hisap

Alien 4.0

Ada suatu kengerian tak terjelaskan
Suatu penurunan
Suatu pergantian
Suatu pembaruan?
Mungkin revolusi atau entah apa namanya

Si Lama dipaksa tidur karena
Si Baru sudah bangun
Mereka bersiap meraja
Dengan kecupan lembut mereka mengambil alih
Tangan-tangan maya meraba-raba
Menancapkan kukunya perlahan ke tubuh peradaban

Percikan antusiasme terhadap kebaruan memberi semangat
Ada yang berlebih akan menggantikan
Sungguh megah nan menggoda, tapi …
Tapi ada kengerian
Kengerian yang bagai venom berlarian manja di pembuluh darah
Merasuk diri yang hanya mematung kekurangan daya

Ngeri, tapi tak kuasa menahan Si Lama tetap terjaga
Si Baru bersiap meraja …

The Edge of The Century

Hawa-hawa kesedihan berhamburan
Udara pengap akan nestapa dirasakan
menjelang datangnya ujung peradaban
Sementara kuil-kuil sesak manusia yang memohon ampunan

Menjelang petang, langit terbelah
Menjawab doa-doa yang meluap bersama resah
Langit mendengar suara-suara hati yang patah
Jiwa-jiwa baik yang diliputi gundah

A Tale of Fitting In

I thought I almost crazy last time I tried to fit in trying to be normal.

Berulang kisah berusaha ikut arus.
Membuang jatah dari sang waktu yang jalan terus dengan gagahnya, tanpa toleransi menggilas jejak.
Tiada maaf pada siapapun
yang salah memanfaatkan dia.

Sang waktu jalan terus tanpa melambat.
Karena semua paham, dia tak sudi menunggu.
Tak bisa dikatakan dia kejam.
Taburan kapsul dia tinggalkan sembari jalan.
Diberikan kepada makhluk fana sesuai jalan hidup tiap individu.

Aku pernah berteriak, “Tolong mundurlah!”
meski tahu, rasanya mustahil waktu berhenti apalagi mundur.

Tapi dia lemparkan kapsul untukku dengan sebuah kalimat di depannya,
fleS ruoY eB

Ku buka kapsul yang ternyata berisi petunjuk,

"Turn around and FIND WHERE YOU LEFT YOUR SPIRIT."

Aku senyum dan berkata dalam hati,
“Syukurlah tulisan yang ini tak dibalik juga.”

Rendah Demi Anda

Merindukan bangsa cacing para tikus
Duduk melantai di tanah
Santai tanpa takut disengat lebah
Yang penting tak lagi gundah
Atas nama damai menjunjung kekalahan
Cukup bermodal kebodohan

Harus kah tetap rendah?
Supaya anda jangan resah
apalagi marah