sayap
kini rapuh, separuh
masih kuat, separuh
tinggal ini
mengapa lah begini
sekali masa, biar terbang tinggi
tolong, apalagi
jangan digunting
jangan digunting
sayap
kini rapuh, separuh
masih kuat, separuh
tinggal ini
mengapa lah begini
sekali masa, biar terbang tinggi
tolong, apalagi
jangan digunting
jangan digunting
sup daging di lapangan
berebut, padahal
panci mendidih
kuahnya panas
mataku hampir melepuh
air mataku …

kirim doa dari bilik bertelut
rumah berdebu
mungkin aku
ada yang lain masih terpaku
Dia dengar doaku
masih di sini
berlutut di atas permadamai
sepertinya sendiri
maaf kau salah, di sini tak sepi!
yang terbang, terbang lah dengan haru
yang pulang, mari pulang tanpa pilu
atau kembali kita ke hulu
itu …
terjadi, terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
seruan pulang
lepas lalu terbang
menghilang dari riuh pandang dedaunan
nyaris senyap meninggalkan penghalang
selesai di sini
mari pergi seolah sembunyi
jauh dari taman warna warni
bergandeng tangan dengan angin, lantas terbang meninggi
bingkisan doa-doa di tiap henti
lalu hinggap di sayap merpati
menari-nari ria
berputar-putar menuju angkasa
bahagia …
padahal sudah pagi
matahari enggan berseri-seri
kini sering begini
hatinya tertuju pada jiwa-jiwa yang nyeri
mendengar doa-doa kapan mati
benang merah putus!
beberapa pilih potong tali
tak lagi cukup dengan perih
ia, ia, dan ia … pergi
di titik-titik, terang memudar
sisa hidup memeluk bumi
ketimbang nyeri yang tak lagi teratasi
merah memerah
jarah menjarah
ambil ambil ambil
luka melukai membelah diri
betapa tak gundah Sang Matahari!
mundur
dua tiga langkah
tak dalam atmosfer bungah
ada ada residu kesah
mundur!
mundur!
luaskan pandangan
siapkan tanpa telunjuk menajam
tanya-tanya jadi menghujam
mengerucut
tanpa terwakili bahasa
tetap mempertanyakan
… ???
di bawah meja, cerita-cerita
euforia
lebih riuh
soal uang!?
segala urusan di atas meja,
RUMIT
Kepada maha sistem,
tunduk!
mungkin memang diciptakan
RUMIT
kokoh
lalu menghamba …
๐๐ข๐ซ๐ก๐ฅ๐ฆ๐จ๐ ๐ก๐ฅ๐๐ด๐ฒ๐ฅ, ๐๐ฒ๐ฐ๐ฑ๐ฆ ๐๐ฏ๐ฑ๐ฅ๐
tenang saja
ragaku kan tetap di lembah
menjilati adanya tanah
kadang kering, kadang basah
menghimpun segala remah yang sudah sudah
jadi tenang lah …
she picked up the broken pieces, until
she has been bleeding
for years
closed the gate to the heart
locked it
she locked it up
where is the blood sucker?
bisa jadi, masa ini ‘kan menggiring pada definisi baru
sukses bukan lagi berbahasa baku
standar lama perlu berlalu
bisa jadi, proses yang entah entah itu, akan berbekas pilu
bertahan lah
berusaha pula tetap ‘baik’
berusaha … berusaha!
karena KELAK
penguasa singgasana juga pasti berganti
Kondisi ujung peradaban di mana hitam dan putih melebur. Makin sulit memilah, sungguh hitam kah, benar putih kah. Hitam itu, buruk kah? Putih ini, baik kah? Hitam berkamuflase. Putih tak lagi suci. Warna yang tersaji amat terang di hadapan ialah abu-abu. Tampak jelas … warna abu-abu.
๐ sejak 2018 ๐
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles