(kel)abu-abu

Kondisi ujung peradaban di mana hitam dan putih melebur. Makin sulit memilah, sungguh hitam kah, benar putih kah. Hitam itu, buruk kah? Putih ini, baik kah? Hitam berkamuflase. Putih tak lagi suci. Warna yang tersaji amat terang di hadapan ialah abu-abu. Tampak jelas … warna abu-abu.

A Tale of Fitting In

I thought I almost crazy last time I tried to fit in trying to be normal.

Berulang kisah berusaha ikut arus.
Membuang jatah dari sang waktu yang jalan terus dengan gagahnya, tanpa toleransi menggilas jejak.
Tiada maaf pada siapapun
yang salah memanfaatkan dia.

Sang waktu jalan terus tanpa melambat.
Karena semua paham, dia tak sudi menunggu.
Tak bisa dikatakan dia kejam.
Taburan kapsul dia tinggalkan sembari jalan.
Diberikan kepada makhluk fana sesuai jalan hidup tiap individu.

Aku pernah berteriak, “Tolong mundurlah!”
meski tahu, rasanya mustahil waktu berhenti apalagi mundur.

Tapi dia lemparkan kapsul untukku dengan sebuah kalimat di depannya,
fleS ruoY eB

Ku buka kapsul yang ternyata berisi petunjuk,

"Turn around and FIND WHERE YOU LEFT YOUR SPIRIT."

Aku senyum dan berkata dalam hati,
“Syukurlah tulisan yang ini tak dibalik juga.”

I Am a Tailor

Andai pilar tubuhku normal, mungkin lah aku sedang memanen gandum sekarang.

Andai pilar tubuhku normal, tak kan ku susah payah mencari sebuah jarum yang pernah ku buang di tumpukan jerami bertahun-tahun lalu.

Andai pilar tubuhku normal, tak perlu lah berkerut dahi memikirkan apa yang bisa ku buat sembari duduk di kastil kecilku.

Aku tak suka membuat kue jahe. Itu mengingatkanku pada bibi Nora.
Menjual buah di pasar? Tidak! Kakiku belum cukup kuat.

Aku memerlukan jarum itu untuk menjahit. Benang wool lama masih ada. Berdebu. Tak yakin akan buat apa. Musim dingin masih lama. Sekarang, aku butuh jarum itu.

Entahlah kalau suatu saat nanti, aku akan kembali ke ladang gandum. Tapi tolong, biarkan aku menjahit dulu saat ini. Aku tak punya pilihan lain.