(kel)abu-abu

Kondisi ujung peradaban di mana hitam dan putih melebur. Makin sulit memilah, sungguh hitam kah, benar putih kah. Hitam itu, buruk kah? Putih ini, baik kah? Hitam berkamuflase. Putih tak lagi suci. Warna yang tersaji amat terang di hadapan ialah abu-abu. Tampak jelas … warna abu-abu.

Lumpur Hisap

Menyusuri sisi sungai perawan
Bersama kesejukan yang anehnya menghitam
Ada keindahan dan kengerian saling merayu
Membawa diri yang terus jalan tanpa ragu

Hap… Hap… Hap…
Kaki melompat hati-hati menghidari celaka
Tak ada di peta, ada ceruk menganga
Degup kencang nyaris menuju petaka
Puji syukur tak jadi cedera

Dahan meringkuk menahan ngeri
Ditemani langit yang tak sudi berseri
Sedang berduka entah sedang luka
Malam mencekam bermuram durja

Tanah berlumpur di dalam hutan
Tenang namun mematikan
Diri yang berjaga akhirnya celaka
Terperangkap di suasana gelap
Terbenam dalam lumpur hisap

I Am a Tailor

Andai pilar tubuhku normal, mungkin lah aku sedang memanen gandum sekarang.

Andai pilar tubuhku normal, tak kan ku susah payah mencari sebuah jarum yang pernah ku buang di tumpukan jerami bertahun-tahun lalu.

Andai pilar tubuhku normal, tak perlu lah berkerut dahi memikirkan apa yang bisa ku buat sembari duduk di kastil kecilku.

Aku tak suka membuat kue jahe. Itu mengingatkanku pada bibi Nora.
Menjual buah di pasar? Tidak! Kakiku belum cukup kuat.

Aku memerlukan jarum itu untuk menjahit. Benang wool lama masih ada. Berdebu. Tak yakin akan buat apa. Musim dingin masih lama. Sekarang, aku butuh jarum itu.

Entahlah kalau suatu saat nanti, aku akan kembali ke ladang gandum. Tapi tolong, biarkan aku menjahit dulu saat ini. Aku tak punya pilihan lain.