sayap
kini rapuh, separuh
masih kuat, separuh
tinggal ini
mengapa lah begini
sekali masa, biar terbang tinggi
tolong, apalagi
jangan digunting
jangan digunting
sayap
kini rapuh, separuh
masih kuat, separuh
tinggal ini
mengapa lah begini
sekali masa, biar terbang tinggi
tolong, apalagi
jangan digunting
jangan digunting
sup daging di lapangan
berebut, padahal
panci mendidih
kuahnya panas
mataku hampir melepuh
air mataku …

kirim doa dari bilik bertelut
rumah berdebu
mungkin aku
ada yang lain masih terpaku
Dia dengar doaku
masih di sini
berlutut di atas permadamai
sepertinya sendiri
maaf kau salah, di sini tak sepi!
yang terbang, terbang lah dengan haru
yang pulang, mari pulang tanpa pilu
atau kembali kita ke hulu
itu …
terjadi, terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
terjadi lah seturut kehendakMu
terlihat serupa
terlihat sama
terlihat baik
sama-sama baik
sama-sama ulurkan tangan
makin lihai kubu api bermanifestasi
main taksa
garis tebal jadi blur
ingat ini!
uluran tangan-tangan berkuku runcing itu tak tulus,
ada harganya …

selamat menikmati, selagi
belum saatnya bayar
di bawah meja, cerita-cerita
euforia
lebih riuh
soal uang!?
segala urusan di atas meja,
RUMIT
Kepada maha sistem,
tunduk!
mungkin memang diciptakan
RUMIT
kokoh
lalu menghamba …
๐๐ข๐ซ๐ก๐ฅ๐ฆ๐จ๐ ๐ก๐ฅ๐๐ด๐ฒ๐ฅ, ๐๐ฒ๐ฐ๐ฑ๐ฆ ๐๐ฏ๐ฑ๐ฅ๐
tenang saja
ragaku kan tetap di lembah
menjilati adanya tanah
kadang kering, kadang basah
menghimpun segala remah yang sudah sudah
jadi tenang lah …
she picked up the broken pieces, until
she has been bleeding
for years
closed the gate to the heart
locked it
she locked it up
where is the blood sucker?
bisa jadi, masa ini ‘kan menggiring pada definisi baru
sukses bukan lagi berbahasa baku
standar lama perlu berlalu
bisa jadi, proses yang entah entah itu, akan berbekas pilu
bertahan lah
berusaha pula tetap ‘baik’
berusaha … berusaha!
karena KELAK
penguasa singgasana juga pasti berganti
kini hening
padahal biasa bising
nyanyian jalan raya sering bikin pening
kini hening
untung saja pakaianku kering
masih belum sinting
jujur
hanya satu mangkuk
apa adanya
diletakkan di atas meja
sesuai pesanan norma kelayakan
suka rasa jujur, kan?
konyol
kok, disuguhkan di atas meja!
diabaikan
jadi dingin
eh,
mie dingin juga enak, kan?
ya bagaimana!?
mereka lebih girang melihatku bergaun indah
bersepatu kaca bagai cinderella
padahal kaki buluk
bibir dan pipi harus merona
pun lirik mata menggoda
tak bisa sekarang
sekarang tak bisa
betapa sia-sia
sial!
kaki ini kaki kelana
bukan kaki puteri
berarti ku pecundang
bila bibirku tak merah?
๐ sejak 2018 ๐
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles