A Tale of Fitting In

I thought I almost crazy last time I tried to fit in trying to be normal.

Berulang kisah berusaha ikut arus.
Membuang jatah dari sang waktu yang jalan terus dengan gagahnya, tanpa toleransi menggilas jejak.
Tiada maaf pada siapapun
yang salah memanfaatkan dia.

Sang waktu jalan terus tanpa melambat.
Karena semua paham, dia tak sudi menunggu.
Tak bisa dikatakan dia kejam.
Taburan kapsul dia tinggalkan sembari jalan.
Diberikan kepada makhluk fana sesuai jalan hidup tiap individu.

Aku pernah berteriak, “Tolong mundurlah!”
meski tahu, rasanya mustahil waktu berhenti apalagi mundur.

Tapi dia lemparkan kapsul untukku dengan sebuah kalimat di depannya,
fleS ruoY eB

Ku buka kapsul yang ternyata berisi petunjuk,

"Turn around and FIND WHERE YOU LEFT YOUR SPIRIT."

Aku senyum dan berkata dalam hati,
“Syukurlah tulisan yang ini tak dibalik juga.”

I Am a Tailor

Andai pilar tubuhku normal, mungkin lah aku sedang memanen gandum sekarang.

Andai pilar tubuhku normal, tak kan ku susah payah mencari sebuah jarum yang pernah ku buang di tumpukan jerami bertahun-tahun lalu.

Andai pilar tubuhku normal, tak perlu lah berkerut dahi memikirkan apa yang bisa ku buat sembari duduk di kastil kecilku.

Aku tak suka membuat kue jahe. Itu mengingatkanku pada bibi Nora.
Menjual buah di pasar? Tidak! Kakiku belum cukup kuat.

Aku memerlukan jarum itu untuk menjahit. Benang wool lama masih ada. Berdebu. Tak yakin akan buat apa. Musim dingin masih lama. Sekarang, aku butuh jarum itu.

Entahlah kalau suatu saat nanti, aku akan kembali ke ladang gandum. Tapi tolong, biarkan aku menjahit dulu saat ini. Aku tak punya pilihan lain.

Rendah Demi Anda

Merindukan bangsa cacing para tikus
Duduk melantai di tanah
Santai tanpa takut disengat lebah
Yang penting tak lagi gundah
Atas nama damai menjunjung kekalahan
Cukup bermodal kebodohan

Harus kah tetap rendah?
Supaya anda jangan resah
apalagi marah

Harmonious

Suara angin mendesis manja
Menerpa wajah yang mulai menua
Tiupkan gelembung syukur dan doa
Berharap hanya damai dan sejahtera

Kalau itu membuat kita berbaik,
aku lebih pilih duduk di bawah terik
Duduk bertanah sesekali bernyanyi
Melihatmu terbang meninggi meraih mimpi
Jangan lupa mampir lah sesekali ke bumi
Kusajikan kudapan-kudapan para peri

THERE WILL COMES AN ERA WHERE GOOD PEOPLE ARE MISUNDERSTOOD …

One Day Between God and Me

Sebuah percakapan antara aku dan Tuhan.

“Bagaimana kalau waktu tak ada?”
aku bertanya.
“Apakah kau mengira Aku juga tak ada?”

Kau tak bisa menjawab pertanyaan-Ku. Tetapi kurasa kau yakin sungai-sungai biru berhenti mengalir. Hujan berubah jadi butir-butir air serba merah. Topi-topi cokelat berterbangan ke langit dan tak pernah kembali. Selimut menggulung sendiri. Buku-buku berjatuhan dari almari. Kacamata pecah. Pulpen menangis. Koper-koper memuntahkan gaun hijau muda. Kau bergegas ke toilet. Kau bergegas bercermin. Kau bergegas memuntahkan makanan terakhir. Roti-roti membusuk. Anggur tumpah.
~Kitab Para Pencibir halaman 91~