kadang kala, menjadi terlalu bahagia buatku merasa bersalah
ku ingin bahagiakan ibu, tapi tak punya apapun yang pantas tuk bayar cintanya
jadi Tuhan … ambil saja jatah bahagiaku dan berikan lah pada adik dan ibuku
kadang kala, menjadi terlalu bahagia buatku merasa bersalah
ku ingin bahagiakan ibu, tapi tak punya apapun yang pantas tuk bayar cintanya
jadi Tuhan … ambil saja jatah bahagiaku dan berikan lah pada adik dan ibuku
Dua tangan terbuka
Wajah menengadah ke langit
Iblis dan malaikat meniupkan inti
Berlomba-lomba memberi pengaruh pada diri
Asa dan petaka bergulung-gulung menghantam dada
Syukur dan tanya campur mendera
Manusia-manusia inti cinta kemarilah
Duduk melingkar di tanah gersang
Letakkan dulu telunjukmu
mengatup bersama jempol,
jari tengah, jari manis, dan kelingking
Rebahkan semua di dada dan lihat ke langit
Sang Maha ciptakan kita bukan untuk mencela
Rasakan hangat di dadamu,
ketika telunjuk merunduk
meniupkan gelembung cinta bersama jari-jari lain
Sesekali mendongak lah
Lihat!
Sang Maha tersenyum
masih tersisa cinta di antara manusia …
Menyusuri sisi sungai perawan
Bersama kesejukan yang anehnya menghitam
Ada keindahan dan kengerian saling merayu
Membawa diri yang terus jalan tanpa ragu
Hap… Hap… Hap…
Kaki melompat hati-hati menghidari celaka
Tak ada di peta, ada ceruk menganga
Degup kencang nyaris menuju petaka
Puji syukur tak jadi cedera
Dahan meringkuk menahan ngeri
Ditemani langit yang tak sudi berseri
Sedang berduka entah sedang luka
Malam mencekam bermuram durja
Tanah berlumpur di dalam hutan
Tenang namun mematikan
Diri yang berjaga akhirnya celaka
Terperangkap di suasana gelap
Terbenam dalam lumpur hisap
Pada suatu malam di negeri Aromatopia, negeri yang menjunjung tinggi aroma dan wewangian unik, seorang pesuruh memasang sebuah pengumuman kompetisi bergengsi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Kompetisi pencarian aroma terbaru yang terbuka bagi seluruh warga negeri Aromatopia yang berusia 20 tahun ke atas. Kompetisi Parfum negeri Aromatopia ini diharapkan dapat menemukan aroma-aroma terbaru yang biasanya selalu terdapat keunikan di setiap pemenangnya.
Ini adalah kompetisi yang ditunggu-tunggu Kentut sejak remaja. Di usia yang telah memenuhi syarat ini, dia bertekat untuk ikut meski sepupunya mengingatkan untuk melupakan kompetisi itu.
“Stereotype! Kamu tau kan, kompetisi itu selalu dimenangkan oleh golongan Bunga atau kadang Buah. Selain itu, pasti kalah, kecuali dia adalah golongan lain keturunan ningrat negeri Aromatopia. Kalau kamu kan…” sepupunya menggantung kata-katanya.
“Bau!” Kentut menjawab dengan wajah kesal. “Tapi tahun lalu, kompetisi itu hampir dimenangkan golongan Darah. Kalau bukan karena Cendana yang dari golongan ningrat itu yang menyogok seorang dewan dari Kementerian Parfum, pemenangnya adalah dari golongan Darah,” terang Kentut menutup pembicaraan.
“Kamu semangat sekali ikut kompetisi itu!” seru sepupu Kentut. “Golongan Darah masih pantas untuk menang karena mereka berkarakter kuat.”
“Karena tak ada seorang pun dari golongan Kentut yang pernah memenangkan kompetisi ini sejak nenek moyang kita,” sahut Kentut.
“Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.”Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.
“Karena aku punya bau, aku akan tetap mencoba. Kalau pun tak menang, aku akan coba lagi di kompetisi berikutnya,” sahut Kentut.
Sepupunya melirik Kentut pasrah, antara tak tega dengan cemoohan yang hampir bisa dipastikan akan diterima Kentut karena bau yang tak enak, campur kagum akan kegigihan sepupunya itu.
Gigih atau naif sebenarnya? Mana ada Parfum Kentut! Siapa juga yang mau memuja aromanya? Aroma ... kentut!
Andai pilar tubuhku normal, mungkin lah aku sedang memanen gandum sekarang.
Andai pilar tubuhku normal, tak kan ku susah payah mencari sebuah jarum yang pernah ku buang di tumpukan jerami bertahun-tahun lalu.
Andai pilar tubuhku normal, tak perlu lah berkerut dahi memikirkan apa yang bisa ku buat sembari duduk di kastil kecilku.
Aku tak suka membuat kue jahe. Itu mengingatkanku pada bibi Nora.
Menjual buah di pasar? Tidak! Kakiku belum cukup kuat.
Aku memerlukan jarum itu untuk menjahit. Benang wool lama masih ada. Berdebu. Tak yakin akan buat apa. Musim dingin masih lama. Sekarang, aku butuh jarum itu.
Entahlah kalau suatu saat nanti, aku akan kembali ke ladang gandum. Tapi tolong, biarkan aku menjahit dulu saat ini. Aku tak punya pilihan lain.
Suara angin mendesis manja
Menerpa wajah yang mulai menua
Tiupkan gelembung syukur dan doa
Berharap hanya damai dan sejahtera
Kalau itu membuat kita berbaik,
aku lebih pilih duduk di bawah terik
Duduk bertanah sesekali bernyanyi
Melihatmu terbang meninggi meraih mimpi
Jangan lupa mampir lah sesekali ke bumi
Kusajikan kudapan-kudapan para peri
THERE WILL COMES AN ERA WHERE GOOD PEOPLE ARE MISUNDERSTOOD …
Jiwa-jiwa bebas berkerumun di panggung tengah
Membuyarkan lamunan si mata merah
Lampu hijau
Lampu hijau
Waktunya menari!
Terbiasa duduk nyaman di kursi kesayangannya,
nyonya besar dengan susah payah membungkuk
berusaha meraih potongan puzzle yang jatuh.
“Erghh, susah juga! Mungkin aku terlalu lama duduk atau… Arghh, sedikit lagi.”
Belum juga berhasil meraihnya, ia kembali duduk ke posisi semula, menghembuskan nafas panjang dan,
“Ahh, sudahlah. Potongan yang jatuh hanya satu. Biarkan saja puzzle ini tak lengkap … “
🍂 sejak 2018 🍂
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles