Kepingan demi kepingan diri
masih saja berguguran
secara utuh tampak memudar
semacam berkurang eksistensinya.
Misi jiwa sampai terbengkalai
kadang kala sampai meraung-raung menuntut gilirannya.
Entah kapan menuju sana
padahal, tanggung jawab jiwa masih memberat di dada.
Sesak!

Hai, jiwa!
Apa kau tak bosan terkungkung dalam raga yang lemah dan bodoh?
Apa hikmat harus kalah pada kepayahan tubuhmu?
Terus berputar-putar dalam tarian fana
yang toh tak dibawa pulang
padahal kepingan jiwamu terus saja merontokkan diri
Kalau bukan karena Tuhan,
kau mungkin sudah terhilang …