The Sacred Call
The Sacred Call
The Sacred Call?
Do you hear the call?
Go respond The Sacred Call!
Let’s come back home …
before The Gate closed.
The Sacred Call
The Sacred Call
The Sacred Call?
Do you hear the call?
Go respond The Sacred Call!
Let’s come back home …
before The Gate closed.
Delegasi kekacauan jiwa
berbaris di ujung peradaban.
Pergelangan mereka terikat pita merah
telunjuk telunjuk saling tunjuk
telunjuk telunjuk saling tunjuk
Di sudut lain,
sisa manusia berinti cinta
mengulum asa di cekungan lembah.
Doa-doa mereka beterbangan di atmosfer
menunggu turunnya tiang awan.

Penjemputan sisa sisa.
Yang terbuang,
akan pulang …
hidup dan mati ku berkali-kali
di titik temu jam tiga pagi.
tiap tewas di medan perang, lalu bangkit lagi
ketika hidup, bisa mati dalam suatu hentakan
berulang, berjuang
padahal bukan nestapa
tapi sudah tak sempat berpuisi
dunia kini mengelu-elukan kaki-kaki yang berdiri di tepi jurang
lebih butuh pendongeng dan penyihir ketimbang penyair
pendongeng panjang usia
penyihir panjang masanya
penyair hidup mati jam tiga pagi
Nak, pergi lah!
Menjauh!
Jangan di sini!
Ini bukan rumah bagi jiwa sepertimu.
Bermain lah ke tempat di mana pesanmu dibalas,
bahkan nafasmu berarti
cari di luar pagar maupun di dalam kerumunan pagi.
Langkahmu belum selesai, nak!
Temukan mereka sebelum sampai ke pintu petaka.
Tenang!
Tak ‘kan terdengar nyanyian resah
yang dengan mata mereka memanah
girang dengan kerumitan.
Dedikasi bagi jalinan dua arah
benang merah terhubung di antara jiwa jiwa yang kalah
tapi saling menghidupi …
Rumah itu sederhana.
Kesempatan bagi jiwa yang (sedang) kalah.
Kisahmu belum usai, nak!
Pergi lah supaya pesanmu dibalas
dan membaik dirimu …
Kepingan demi kepingan diri
masih saja berguguran
secara utuh tampak memudar
semacam berkurang eksistensinya.
Misi jiwa sampai terbengkalai
kadang kala sampai meraung-raung menuntut gilirannya.
Entah kapan menuju sana
padahal, tanggung jawab jiwa masih memberat di dada.
Sesak!

Hai, jiwa!
Apa kau tak bosan terkungkung dalam raga yang lemah dan bodoh?
Apa hikmat harus kalah pada kepayahan tubuhmu?
Terus berputar-putar dalam tarian fana
yang toh tak dibawa pulang
padahal kepingan jiwamu terus saja merontokkan diri
Kalau bukan karena Tuhan,
kau mungkin sudah terhilang …
Berpendar di kegelapan,
cahaya indah yang terangnya bersahaja
Bangga ku padamu
justru karena kau tak seakbar matahari
Tak membara
Tak pernah membakar
Tak perlu menyengat
Tak harus menakutkan
Ada dengan cinta karena cinta untuk cinta
titip asaku
kertas putih yang
tergantung di atas sana
di naungan sisi gelap yang sembunyi di balik rupa
kau tak kan sadar luka-lukanya!
something is boiling
burning under the skin
slowly running though my veins
it’s here!
it’s here bursting
ketika saatnya pulang
aku akan pulang dengan bahagia
ke tempat di mana hampir segala impian baik bermuara
suatu tempat asa mula cahaya diciptakan
suatu tempat di mana air mata duka tak lagi ada
aku akan pulang
meninggalkan alam mimpi dan sederet cerita perjuangan
ketika saatnya pulang
aku telah terbangun dari tidur panjang
jangan menunjuk
jangan menuduh
kita tak pernah benar-benar tahu
bunga mekar di wajah manusia itu ternyata menutupi beban di lidah yang ‘tlah lama kelu
ia selalu iya
sigap menadahkan tempayan berisi ribuan iya
🍂 sejak 2018 🍂
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles