Tak Mau Dada Berdarah

Kakiku berlompatan kesana kemari
Memenuhi semangat yang memaksa pergi
Api di dada menyembur lagi
Bagai naga marah berapi-api

Sayang …
Kadang monster air menyibak mengganggu
Berusaha memadamkan api di dadaku

Jangan mati api!
Tetaplah menyala tanpa peduli
Biar diganggu tetaplah merah
Tak mau lagi tersudut dengan dada berdarah!

Lumpur Hisap

Menyusuri sisi sungai perawan
Bersama kesejukan yang anehnya menghitam
Ada keindahan dan kengerian saling merayu
Membawa diri yang terus jalan tanpa ragu

Hap… Hap… Hap…
Kaki melompat hati-hati menghidari celaka
Tak ada di peta, ada ceruk menganga
Degup kencang nyaris menuju petaka
Puji syukur tak jadi cedera

Dahan meringkuk menahan ngeri
Ditemani langit yang tak sudi berseri
Sedang berduka entah sedang luka
Malam mencekam bermuram durja

Tanah berlumpur di dalam hutan
Tenang namun mematikan
Diri yang berjaga akhirnya celaka
Terperangkap di suasana gelap
Terbenam dalam lumpur hisap

Alien 4.0

Ada suatu kengerian tak terjelaskan
Suatu penurunan
Suatu pergantian
Suatu pembaruan?
Mungkin revolusi atau entah apa namanya

Si Lama dipaksa tidur karena
Si Baru sudah bangun
Mereka bersiap meraja
Dengan kecupan lembut mereka mengambil alih
Tangan-tangan maya meraba-raba
Menancapkan kukunya perlahan ke tubuh peradaban

Percikan antusiasme terhadap kebaruan memberi semangat
Ada yang berlebih akan menggantikan
Sungguh megah nan menggoda, tapi …
Tapi ada kengerian
Kengerian yang bagai venom berlarian manja di pembuluh darah
Merasuk diri yang hanya mematung kekurangan daya

Ngeri, tapi tak kuasa menahan Si Lama tetap terjaga
Si Baru bersiap meraja …

Negeri Aromatopia

Pada suatu malam di negeri Aromatopia, negeri yang menjunjung tinggi aroma dan wewangian unik, seorang pesuruh memasang sebuah pengumuman kompetisi bergengsi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Kompetisi pencarian aroma terbaru yang terbuka bagi seluruh warga negeri Aromatopia yang berusia 20 tahun ke atas. Kompetisi Parfum negeri Aromatopia ini diharapkan dapat menemukan aroma-aroma terbaru yang biasanya selalu terdapat keunikan di setiap pemenangnya.

Ini adalah kompetisi yang ditunggu-tunggu Kentut sejak remaja. Di usia yang telah memenuhi syarat ini, dia bertekat untuk ikut meski sepupunya mengingatkan untuk melupakan kompetisi itu.

“Stereotype! Kamu tau kan, kompetisi itu selalu dimenangkan oleh golongan Bunga atau kadang Buah. Selain itu, pasti kalah, kecuali dia adalah golongan lain keturunan ningrat negeri Aromatopia. Kalau kamu kan…” sepupunya menggantung kata-katanya.

“Bau!” Kentut menjawab dengan wajah kesal. “Tapi tahun lalu, kompetisi itu hampir dimenangkan golongan Darah. Kalau bukan karena Cendana yang dari golongan ningrat itu yang menyogok seorang dewan dari Kementerian Parfum, pemenangnya adalah dari golongan Darah,” terang Kentut menutup pembicaraan.

“Kamu semangat sekali ikut kompetisi itu!” seru sepupu Kentut. “Golongan Darah masih pantas untuk menang karena mereka berkarakter kuat.”

“Karena tak ada seorang pun dari golongan Kentut yang pernah memenangkan kompetisi ini sejak nenek moyang kita,” sahut Kentut.

“Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.”Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.

“Karena aku punya bau, aku akan tetap mencoba. Kalau pun tak menang, aku akan coba lagi di kompetisi berikutnya,” sahut Kentut.

Sepupunya melirik Kentut pasrah, antara tak tega dengan cemoohan yang hampir bisa dipastikan akan diterima Kentut karena bau yang tak enak, campur kagum akan kegigihan sepupunya itu.

Gigih atau naif sebenarnya? Mana ada Parfum Kentut! Siapa juga yang mau memuja aromanya? Aroma ... kentut!

Arrogant!

Bawa saja!

Bawa jauh jauh cahaya besar itu!

Percuma bermegah!

Toh, terangnya memuramkan jiwa

Seolah indah namun menakutkan


Lebih baik di sini

Di persemayaman para mantan pendosa

Biar berganti

Ganti kegelapan mengutus titik-titik terang ke segala penjuru

Memberi harapan pada jiwa-jiwa yang haus

Merindukan oase harapan yang tak kunjung datang

The Edge of The Century

Hawa-hawa kesedihan berhamburan
Udara pengap akan nestapa dirasakan
menjelang datangnya ujung peradaban
Sementara kuil-kuil sesak manusia yang memohon ampunan

Menjelang petang, langit terbelah
Menjawab doa-doa yang meluap bersama resah
Langit mendengar suara-suara hati yang patah
Jiwa-jiwa baik yang diliputi gundah

A Tale of Fitting In

I thought I almost crazy last time I tried to fit in trying to be normal.

Berulang kisah berusaha ikut arus.
Membuang jatah dari sang waktu yang jalan terus dengan gagahnya, tanpa toleransi menggilas jejak.
Tiada maaf pada siapapun
yang salah memanfaatkan dia.

Sang waktu jalan terus tanpa melambat.
Karena semua paham, dia tak sudi menunggu.
Tak bisa dikatakan dia kejam.
Taburan kapsul dia tinggalkan sembari jalan.
Diberikan kepada makhluk fana sesuai jalan hidup tiap individu.

Aku pernah berteriak, “Tolong mundurlah!”
meski tahu, rasanya mustahil waktu berhenti apalagi mundur.

Tapi dia lemparkan kapsul untukku dengan sebuah kalimat di depannya,
fleS ruoY eB

Ku buka kapsul yang ternyata berisi petunjuk,

"Turn around and FIND WHERE YOU LEFT YOUR SPIRIT."

Aku senyum dan berkata dalam hati,
“Syukurlah tulisan yang ini tak dibalik juga.”