Generasi Akhir (Zaman)

Delegasi kekacauan jiwa
berbaris di ujung peradaban.
Pergelangan mereka terikat pita merah
telunjuk telunjuk saling tunjuk
telunjuk telunjuk saling tunjuk

Di sudut lain,
sisa manusia berinti cinta
mengulum asa di cekungan lembah.
Doa-doa mereka beterbangan di atmosfer
menunggu turunnya tiang awan.


Penjemputan sisa sisa.

Yang terbuang,

akan pulang …

Siklus Jam Tiga

hidup dan mati ku berkali-kali

di titik temu jam tiga pagi.

tiap tewas di medan perang, lalu bangkit lagi

ketika hidup, bisa mati dalam suatu hentakan

berulang, berjuang

padahal bukan nestapa

tapi sudah tak sempat berpuisi

dunia kini mengelu-elukan kaki-kaki yang berdiri di tepi jurang

lebih butuh pendongeng dan penyihir ketimbang penyair

pendongeng panjang usia

penyihir panjang masanya

penyair hidup mati jam tiga pagi

A Home For Failure

Nak, pergi lah!

Menjauh!

Jangan di sini!

Ini bukan rumah bagi jiwa sepertimu.

Bermain lah ke tempat di mana pesanmu dibalas,

bahkan nafasmu berarti

cari di luar pagar maupun di dalam kerumunan pagi.

Langkahmu belum selesai, nak!

Temukan mereka sebelum sampai ke pintu petaka.

Tenang!

Tak ‘kan terdengar nyanyian resah

yang dengan mata mereka memanah

girang dengan kerumitan.

Dedikasi bagi jalinan dua arah

benang merah terhubung di antara jiwa jiwa yang kalah

tapi saling menghidupi …

Rumah itu sederhana.

Kesempatan bagi jiwa yang (sedang) kalah.

Kisahmu belum usai, nak!

Pergi lah supaya pesanmu dibalas

dan membaik dirimu …

Pieces of The Soul: Fade Away

Kepingan demi kepingan diri

masih saja berguguran

secara utuh tampak memudar

semacam berkurang eksistensinya.

Misi jiwa sampai terbengkalai

kadang kala sampai meraung-raung menuntut gilirannya.

Entah kapan menuju sana

padahal, tanggung jawab jiwa masih memberat di dada.

Sesak!

Hai, jiwa!

Apa kau tak bosan terkungkung dalam raga yang lemah dan bodoh?

Apa hikmat harus kalah pada kepayahan tubuhmu?

Terus berputar-putar dalam tarian fana

yang toh tak dibawa pulang

padahal kepingan jiwamu terus saja merontokkan diri

Kalau bukan karena Tuhan,

kau mungkin sudah terhilang …

Best Lovely Father

Berpendar di kegelapan,
cahaya indah yang terangnya bersahaja
Bangga ku padamu
justru karena kau tak seakbar matahari


Tak membara
Tak pernah membakar
Tak perlu menyengat
Tak harus menakutkan
Ada dengan cinta karena cinta untuk cinta

Going Home

ketika saatnya pulang

aku akan pulang dengan bahagia

ke tempat di mana hampir segala impian baik bermuara

suatu tempat asa mula cahaya diciptakan

suatu tempat di mana air mata duka tak lagi ada

aku akan pulang

meninggalkan alam mimpi dan sederet cerita perjuangan

ketika saatnya pulang

aku telah terbangun dari tidur panjang