Tuhan
Jikalau rasa sakit mampu menuntun di jalan yang tepat,
tanamkan lah kekuatan pada lukaku
Tuhan
Jikalau rasa sakit mampu menambah kebajikan,
cangkokkan lah kebijaksanaan pada lukaku
Tuhan
Jikalau rasa sakit mampu menuntun di jalan yang tepat,
tanamkan lah kekuatan pada lukaku
Tuhan
Jikalau rasa sakit mampu menambah kebajikan,
cangkokkan lah kebijaksanaan pada lukaku
kau suka tubuhku?
warna-warni bajuku membuaimu?
Indah, ya!
kau suka?
kau begitu mengagumiku padahal sesamamu juga warna-warni
Warna-warniku lebih indah ketimbang warna-warnimu?
Pada awan ku sampaikan
titip wajahmu di antara bintang-bintang
bersua di relung malam
lanjutkan cerita kita.
Terbang, cintaku terbang
Cintaku bukan hilang
ia hanya pindah ruang
lanjutkan perjalanan
menuju keabadian
Puisi ini dipersembahkan untuk 53 kesatria KRI Nanggala 402. Selamat jalan!
Injak!
Tekan!
Lebih kuat!
Tak akan hancur meski sesak
Dadaku …
Bergemuruh hebat bersama nafas tersengal gelisah
Menunggu sembari menggigit bibir hingga berdarah
Rambutku bahkan belum basah
Kau tahu?
Mataku buram melihat kalender
Hari-hari seolah kertas surat yang dibaca lalu digeletakkan
Jiwaku tak mampu bercinta dengan yang lain
Cepat kemari sebelum dadaku meledak!
Dua tangan terbuka
Wajah menengadah ke langit
Iblis dan malaikat meniupkan inti
Berlomba-lomba memberi pengaruh pada diri
Asa dan petaka bergulung-gulung menghantam dada
Syukur dan tanya campur mendera
Manusia-manusia inti cinta kemarilah
Duduk melingkar di tanah gersang
Letakkan dulu telunjukmu
mengatup bersama jempol,
jari tengah, jari manis, dan kelingking
Rebahkan semua di dada dan lihat ke langit
Sang Maha ciptakan kita bukan untuk mencela
Rasakan hangat di dadamu,
ketika telunjuk merunduk
meniupkan gelembung cinta bersama jari-jari lain
Sesekali mendongak lah
Lihat!
Sang Maha tersenyum
masih tersisa cinta di antara manusia …
Berpendar di kegelapan,
cahaya indah terangnya bersahaja
Bangga ku padamu, agungmu tak seakbar matahari terik
Tak beringsang
Tak beringas
Tak membakar
Tak menyengat
Tak menakutkan
Ada dengan cinta karena cinta untuk cinta
Menulis surat di secarik kertas putih
Melipat jadi bentuk pesawat
Ku terbangkan pesawat surat itu ke langit
diiringi damai di hati
Berpijak di awan
Putih bertemu putih
memainkan kebaikan yang naif
Canda tawa suka dan cinta
Rajutan kerinduan penuh damai sejahtera
Kisah lama yang terbengkalai takdir
Ketika kembali ke dunia nyata,
tolong tetaplah indah
Buat cinta jadi penguasa hati
Damai, yang harus memenangkan diri
Usir prasangka,
ayo berbaik lagi
Harmoni menanglah!
Harmoni menanglah!
tangan bergurau mulut meracau
jutaan pengaruh berdenyut denyut
tumpang tindih suara saling sahut
saya dan kuasa
saling menutupi
saling menghalangi
bising sana
bising sini
suara paling lirih
berkata paling benar
Paling benar
Paling sering terabaikan
Kakiku berlompatan kesana kemari
Memenuhi semangat yang memaksa pergi
Api di dada menyembur lagi
Bagai naga marah berapi-api
Sayang …
Kadang monster air menyibak mengganggu
Berusaha memadamkan api di dadaku
Jangan mati api!
Tetaplah menyala tanpa peduli
Biar diganggu tetaplah merah
Tak mau lagi tersudut dengan dada berdarah!
Menyusuri sisi sungai perawan
Bersama kesejukan yang anehnya menghitam
Ada keindahan dan kengerian saling merayu
Membawa diri yang terus jalan tanpa ragu
Hap… Hap… Hap…
Kaki melompat hati-hati menghidari celaka
Tak ada di peta, ada ceruk menganga
Degup kencang nyaris menuju petaka
Puji syukur tak jadi cedera
Dahan meringkuk menahan ngeri
Ditemani langit yang tak sudi berseri
Sedang berduka entah sedang luka
Malam mencekam bermuram durja
Tanah berlumpur di dalam hutan
Tenang namun mematikan
Diri yang berjaga akhirnya celaka
Terperangkap di suasana gelap
Terbenam dalam lumpur hisap
🍂 sejak 2018 🍂
Menyambut masa depan dengan pikiran, mengabadikan yang berlalu dengan tulisan.
Daily Contemplation and Scribbles